EPSTEIN TROPIS |
Oligarki, sawit, impunitas, hukum selektif, negara yg takut membuka daftar nama, & pura-pura tak tahu.
______________________
Judul & sub-judul tsb, berangkat dari pertanyaan sederhana :
Apa yg bisa dipetik dari skandal Jeffrey Epstein ?
Ternyata banyak yg bisa dipetik, tp ironisnya, justru yg paling penting sedemikian sering sengaja tak dipetik.
"Ada yg fetish-nya spt Epstein, di republik ini ada yg fetish-nya Sawit". 😁
Boleh² saja kalimat dlm tanda kutip itu dianggap konyol, tapi "pola jahitan"-nya sama.
Beda aktor,
beda korban,
tapi mekanismenya "copypaste"
1. Skandal Besar, Butuh Proteksi Besar.
Epstein bukan predator tunggal, ia bisa "beroperasi" sedemikian lama krn dilindungi, oleh relasi elite, uang, & institusi negara.
Sama dgn kejahatan ekologis skala besar, ia lahir :
tak mungkin tanpa izin
tak mungkin berlangsung tanpa pembiaran,
tak mungkin meluas tanpa perlindungan.
Perampasan tanah, pembukaan hutan, kebakaran hutan, sungai mati, itu semua butuh :
"TANDA TANGAN",
bukan sekadar korek Zippo.
Di republik ini, api yg melalap kawasan hutan, kerap di sebut "bencana alam", padahal itu produk administrasi & kebijakan negara.
2. Hukum Tak Tuli, Tp Selektif Mendengar, Hukum Mengerti Siapa Majikannya.
Pengusaha sawit jarang menghirup oksigen dari dalam bui, tapi petani kecil, mandor, sopir, & warga ada yg "tak punya dokumen".
Persis Epstein :
korban diperiksa,
pelaku dinegosiasikan,
hukuman ringan th. 2008, berkat "kesepakatan rahasia",
dgn fasilitas penjara VIP.
Semua itu bukan anomali, tapi 'privilege class justice.
"HUKUM TAK BEKERJA DI RUANG HAMPA UDARA, IA BEKERJA DALAM RELASI KUASA"
3. Filantropi Sebagai Jubah Kedemawanan & Sabun Moral.
Epstein sembunyi di balik "donasi sains", sementara bos² sawit berlindung di balik :
- CSR,
- Sekolah rakyat (Gratis).
- "Makan gratis".
- Bibit gratis.
- Baliho "Sawit Berkelanjutan".
Satu sekolah menutup satu hutan,
satu bea siswa membunuh satu sungai.
Drama kebaikan kecil kerap dipakai sbg :
KUITANSI PENGAMPUNAN DOSA.
4. Elite Kompak Amnesia Berjemaah.
Silakan dicermati ketika penguasa bicara bombastis di podium, seolah tegas, mengancam pelaku kejahatan ekologis dan bla ....bla...bla.
Tapi, tak ada nama² besar yg disebut, laporan dipangkas, audit diselipkan, peta konsesi disamarkan, lalu perusahaan drone pemetaan kebakaran, pemiliknya dijebloskan ke bui.
Seperti daftar tamu Epstein, yg berbahaya bukan nama² yg bocor, tapi yg tak pernah dibuka.
"REPUBLIK INI TIDAK GENTAR PADA KEJAHATAN, TAPI PADA DAFTAR NAMA".
5. Korban Tak Punya Podium & Mikrofon.
Anak² korban "rudal Epstein" vs Satwa, ekosistem, masyarakat adat, petani :
mereka sama² lemah scr politik, pun sama² dituduh menghambat kemajuan.
Kalau anak² korban Epstein ditudup pendusta, warga adat, aktivis, netizen yg kritis disebut kelompok nyinyir, anti investasi, hingga dicap makar.
NARASI NEGARA SELALU LEBIH KEJAM TERHADAP MEREKA YANG TAK PUNYA PENGACARA MAHAL.
6. Narasi Penutup (Nyaris) Sempurna.
Epstein: "Case closed".
Bunuh diri bisa jadi narasi pamungkas, entah publik percaya, ragu², atau tdk percaya sama sekali.
Pertanyaan berhenti, nama² menguap.
Kadang yg dikubur bukan mayat, tp rantai kebenaran.
7. Moral Publik Mudah Lelah.
Awalnya marah, lalu bosan, (dimunculkan) isu baru, kemudian pindah topik.
Sistem sangat memahami itu.
KEJAHATAN ELIT BERTAHAN LAMA BUKAN KRN KEBAL KRITIK, TAPI KRN PUBLIK MUDAH TERDISTRAKSI.
Skandal Epstein & kejahatan ekologis di republik ini, bukan ttg satu monster, tapi ttg ekosistem yg membuat monster merasa aman.
Tragisnya, kejahatan besar di republik ini, selalu diberi nama kecil :
"oknum", "becana alam", "musibah", "takdir", & "risiko pembangunan".
.
.
.
DAMN !!!