Bukannya berhenti, eksperimen tetap lanjut. Mei 1946, ilmuwan bernama Louis Slotin melakukan hal yang lebih gila.
Dia menggunakan obeng untuk menahan dua belahan kubah berilium agar tidak menutup rapat di atas inti plutonium tersebut.
Dia menyebutnya "tickling the dragon's tail" atau menggelitik ekor naga.
Teman Slotin: "Lou, itu serius lu cuma nahan bom nuklir pakai obeng minus karatan gitu?"
Slotin: "Tenang, bro. Gue udah sering begini. Ini namanya teknik 'Gelitik Ekor Naga'. Selow, tangan gue steady banget kayak pro player."
Teman Slotin: "Tapi itu kalau meleset dikit, kita semua jadi sate lho."
Slotin: "Gak bakal, liat nih... dikit lagi... dikit lag—"
Obeng: (Meleset) KLAK!
Plutonium: ZAP! (Cahaya biru lebih terang dari masa depan)
Slotin: "ASTAGA NAGA!" (Ngelempar penutup bom)
Teman Slotin: "LOU! LU NGAPAIN?!"
Slotin: "Udah, kalian mendingan bikin status wasiat sekarang. Gue barusan dapet tiket VIP ke akhirat."
Teman Slotin: "Tadi katanya steady..."
Slotin: "Ya namanya juga hidup, kalau gak khilaf ya... mampus."
Slotin menyerap radiasi yang sangat mematikan. Dia meninggal 9 hari kemudian.
Setelah kejadian Slotin, eksperimen tangan kosong langsung dilarang total.
Inti plutonium itu akhirnya dilebur kembali menjadi bagian dari senjata nuklir lain karena dianggap terlalu "berhantu" dan berbahaya untuk disentuh manusia lagi.
Pada Agustus 1945, fisikawan bernama Harry Daghlian sedang bereksperimen sendirian.
Padahal, protokol keamanan bilang kalau mainan ginian minimal harus berdua.
Dia sedang menyusun batu bata tungsten karbida di sekitar inti plutonium untuk memantulkan neutron kembali ke inti agar mendekati kondisi kritis.
Harry: "Dikit lagi... satu bata lagi... kalau ini ditaruh di sini, grafiknya pasti cakep banget. Gak perlu nunggu asisten besok pagi lah ya, gue kan udah pro."
Keamanan Lab: (Ngetok pintu) "Woi Har! Belum pulang lu? Udah jam dua pagi!"
Harry: "Bentar lagi, tanggung! Satu bata doang kok!"
Tiba-tiba, saat dia hendak menempatkan bata terakhir, tangannya licin. Dia gak sengaja menjatuhkan satu bata tungsten itu tepat di atas bola plutonium tersebut.
Apa yang terjadi? Plutonium itu langsung masuk ke fase supercritical.
Cahaya biru menyambar (ionisasi udara) memenuhi ruangan.
Harry panik dan langsung membongkar tumpukan bata itu pakai tangan kosong untuk menghentikan reaksinya.
Bata Tungsten: (Kepeleset) PLUK!
Plutonium: "ZAPPP!" (Ruangan seketika membiru)
Harry: "ASTAGA! Kok jadi kayak konser Coldplay gini?! Biru semua!"
Harry: (Panik ngebongkar bata panas pakai tangan) "Panas! Panas banget! Duh, jangan meledak dulu please, gue belum kawin!"
Harry: (Napas terengah-engah) "Oke... oke... batanya udah lepas. Tapi barusan itu... itu tadi radiasi murni kan ya? Well, kayaknya gue baru aja dapet tiket VIP ke akhirat."
Meskipun reaksinya berhenti, Harry sudah terpapar radiasi dosis tinggi.
Dia meninggal 25 hari kemudian dengan kondisi yang sangat tragis akibat luka bakar radiasi yang parah.